Jumat, 05 Oktober 2012
ETIKA ILMIAH
Etika dan Ilmiah memiliki masing-masing pengertian , Etika secara etimologi berasal dari kata Yunani, yaitu ethos memiliki watak kesusilaan atau adat. Dan secara terminologi, etika adalah cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungan dengan baik maupun buruk, adapun pengertian lainnya mengenai etika yakni ilmu yang membahas perbuatan manusia sejauh yang dapat di pahami oleh pikiran manusia. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab. Etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi.dan di situlah etika merupakan suatu ilmu yang objek dari tingkah laku manusia yang memiliki banyak perbedaan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya, etika juga memiliki sudut pandang normatif maksudnya etika di lihat dari sudut pandang yang berbeda baik dan buruk perbuatan manusia.
Mempelajari etika tujuan nya untuk mendapatkan konsep yang sama mengenal penilaian baik dan buruk bagi semua manusia dalam ruang dan waktu tertentu. Etika biasanya disebut ilmu pengetahuan normatif sebab etika menetapkan ukuran bagi perbuatan manusia denga penggunaan norma tentang baik dan buruk. Dan sedangkan Ilmiah memiliki arti bersifat ilmu, secara ilmu pengetahuan, memenuhi syarat (kaidah) ilmu pengetahuan. Dalam kamus ilmiah popular, ilmiah berarti keilmuan, ilmu pengetahuan, sains. Etika ilmiah memang sangat di perlukan dalam menuliskan karya ilmiah.
Ilmu filsafat sebagai usaha ilmiah dibagi menjadi beberapa cabang menurut lingkup bahasannya masing-masing. Dan cabang-cabang itu di bagimenjadi dua kelompok bahasan yaitu filsafat teoritis dan filsafat praktis. Kelompok pertama mempertanyakan segala sesuatu yang ada, sedangkan kelompok kedua membahas bagaimana manusia bersikap terhadap apa yang ada tersebut. filsafat teoritis mempertanyakan dan berusaha mencari jawabannya tentang segala sesuatu misalnya manusia, alam, hakikat realistas sebagai keseluruhan, tentang pengetahuan, tentang apa yang kita ketahui, tentang yang transenden, dan sebagainya. Dalam hal ini filsafat teoritis pun mempunyai maksud dan berkaitan dengan hal-hal yang bersifat praktis, karena pemahaman menggerakkan kehidupan.
Etika individual membahas kewajiban manusia terhadap diri sendiri dalam kaitannya dengan kedudukan manusia sebagai warga masyarakat. Etika social membicarakan tentang kewajiban manusia sebagai anggota masyarakat atau umat manusia. Dalam masalah ini etika individual tidak dapat dipisahkan dengan etika social menyangkut hubungan manusia dengan manusia lain baik secara langsung maupun dalam bentuk kelembagaan (keluarga, masyarakat, dan Negara), sikap kritis terhadap pandangan-pandangan dunia, ideologi-ideologi maupun tanggung jawab manusia terhadap lingkungan hidup. Jadi etika sosial tentang ilmuwan yang baik (etika ilmiah) adalah salah satu jenis etika khusus, disamping etika-etika khusus lainnya, seperti etika profesi, etika politik, etika bisnis.
Adapun Etika sosial berfungsi membuat manusia menjadi sadar tentang tanggung jawabnya sebagai manusia dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat, menurut semua dimensinya. Demikian juga etika profesi merupakan etika khusus dalam etika sosial mempunyai tugasdan tanggung jawab kepada ilmu dan profesi yang disandangnya. Dalam ini, para ilmuwan harus berorientasi pada rasa sadar akan tanggung jawab profesi dan tanggung jawab sebagai ilmuan yang melatar belakangi corak pemikiran ilmiah dan sikap ilmiahnya. Para ilmuwan sebagai professional di bidang keilmuwan tentu perlu memiliki visi moral, yang dalam filsafat ilmu disebut sebagai sikap ilmia, yaitu suatu sikap yang diarahkan untuk mencapai pengetahuan ilmiah yang bersifat objektif, yang bebas dari prasangka pribadi, dapat dipertanggung jawabkan secara sosial dan kepada sang penciptanya. Sikap ilmiah harus di miliki oleh setiap ilmuwan . hal ini disebabkan oleh karena sikap ilmiah adalah suatu sikap yang diarahkan untuk mencapai suatu pengetahuan ilmiah yang bersifat objektif. Sikap ilmiah bagi seorang ilmuwan bukanlah membahas tentang tujuan dari ilmu, melainkan bagaimana cara untuk mencapai suatu ilmu yang bebas dari prasangka pribadi dan dapat dipertanggung jawabkan kepada Tuhan artinya selaras dengan kehendak manusia dan kehendak tuhan.
Adapun sikap ilmiah yang perlu dimiliki oleh para ilmuwan sedikitnya ada enam, yaitu:
1.Tidak ada rasa pamrih (disinterstedness), merupakan sikap yang diarahkan untuk mencapai pengetahuan ilmiah yang objektif dan menghilangkan pamrih.
2.Bersikap selektif, yaitu suatu sikap yang tujuannya agar para ilmuwan mampu mengadakan pemilihan terhadap segala sesuatu yang dihadapi.
3.Adanya rasa percaya yang layak baik terhadap kenyataan maupun terhadap alat-alat indera serta budi (mind).
4.Adanya sikap yang berdasar pada suatu kepercayaan (belief) dan dengan merasa pasti (conviction) bahwa setiap pendapat atau teori yang terdahulu telah mencapai kepastian.
5.Adanya suatu kegiatan rutin bahwa ilmuwan harus selalu ada dorongan untuk riset. Dan riset atau penelitian merupakan aktifitas yang menonjol dalam hidupnya.
6.Memiliki sikap etis (akhlak) yang selalu berkehendak untuk mengembangkan ilmu bagi kemajuan ilmu dan untuk kebahagiaan manusia.
Referensi : http://vhocket.wordpress.com/2011/10/12/etika-ilmiah/
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar